tas kulit domba

Motif Kain Jaket Kulit Yang Cocok Untuk Anda

Perawatan Jaket Kulit Cara Sederhana

Bagaimana Cara Merawat Jaket Kulit kesayangan anda ….?
Sangat sederhana …

Pertama, jangan mencuci jaket kulit apalagi dengan deterjen, Jaket Kulit Anda akan kering dan rapuh.

Kedua, jangan biarkan jaket kulit anda terkena air (termasuk air hujan). Kalau sampai terkena air cara mengeringkannya jangan dijemur, gantung saja jaket kulit anda ditempat yang tidak terkena sinar matahari dan biarkan kering oleh angin.

Ketiga, sebulan sekali lembabkan jaket kulit anda dengan lotion. Oleskan lotion pada jaket kulit anda lalu biarkan selama satu jam dan bersihkan dengan lap yang kering tetapi bertekstur lembut.

Keempat, bersihkan noda yang menempel di jaket kulit anda dengan minyak goreng (gemuk) atau anda bisa membeli cairan khusus di toko. Ambil kapas lalu teteskan minyak goreng/cairan khusus tersebut diatas kapas, selanjutnya pakai kapas itu untuk menggosok noda pada jaket kulit anda.

Kelima, jangan menyemprotkan parfum ataupun spray kepermukaan jaket kulit.

Keenam, setiap habis dipakai segera gantungkan jaket kulit di gantungan baju sehingga jaket kulit tidak kusut. Lalu simpan ditempat yang sirkulasi udaranya baik.
Jagalah jaket kulit agar tetap sempurna, dengan pemeliharaan yang tepat.

Kategori lain klik disini :

1. tas kulit asli

2. tas kulit murah

3. tas kulit sapi

4. tas kulit batik

5. tas kulit pria

6. tas kulit wanita

7. tas kulit ular

8. pusat tas kulit

KERAJINAN TAS KULIT ASLI

Industrikerajinan tas kulit asli mulai berkembang di Indonesia sejak tahun 1970-an. Pada sektor hulu, terjadi pertumbuhan dari 37 pabrik berukuran besar dan menengah pada tahun 1975 menjadi 112 pada tahun 1995. Pada tahun 1975-1990 bermunculan sentra-sentra industri          kerajinan kulit seperti di Magetan, Garut, dan Madiun. Pada tahun yang sama terjadi peningkatan jumlah pabrik      dari sekitar 200 pabrik menjadi 500 pabrik pada rentang masa yang sama. Kapasitas terpasang meningkat dari 40.000 ton menjadi 70.000 ton per tahun.       Pada       masa tersebut, teknologi konvensional mulai ditinggalkan dan beralih pada teknologi yang lebih modern.              Teknologi pewarnaan kulit            misalnya, yang semula dilakukan secara tradisional diganti dengan mesin pewarna otomatis yang mampu mencampur warna   lebih merata     dengan hasil yang lebih stabil dan sesuai dengan warna yang diinginkan.     Industri kulit di Indonesia sempat menurun pada rentang waktu     tahun 1998 sampai tahun 2000, yang pada tahun 1998 perusahaan berskala menengahsebanyak 112 dan perusahaan berskala kecil sebanyak  400 usaha. Dan pada tahun 2000 terjadi penurunan pabrik berskala besar menegah menjadi 47 dan     pabrik berskala kecil menjadi 125. Penyebab dari penurunan tersebut adalah pasokan bahan baku kulit mentah yang menurun karena sebagian    besar kulit mentah itu lebih menguntungkan jika langsung di ekspor, bukan digunakan untuk industri hilir di dalam negeri. Hal ini terjadi karena harga di pasar ekspor jauh lebih tinggi dari harga di dalam negeri. Harga kulit mentah di pasar internasional sekitar 9 dollar AS atau sekitar Rp 81.000 per kilogram. Harga kulit mentah sapi Jawa misalnya, di pasar dalam negeri hanya berkisar antara Rp 16.000 – Rp 19.000 per kilogram, namun jika dijual     di pasar internasional harga jenis kulit yang sama bisa mencapai 3 dollar AS (sekitar Rp 27.000) per kilogram.           Sementara untuk kulit setengah jadi (wetblue) berkisar 5 dollar per feet square (1 feet square = 30 X 30 cm).   Harga kulit imitasi jauh lebih murah, berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 50.000 per meter. Adapun satu meter kulit imitasi rata-rata dapat menghasilkan enam hingga dua belas buah tas, tergantung modelnya. Selain harganya lebih murah, tas kulit dari bahan kulit imitasi juga lebih laris dibanding tas kulit asli. Tas imitasi untuk kaum wanita dijual dengan harga antara Rp 20.000 hingga Rp 70.000 per buah dan masih banyak diminati     konsumen dibandingkan dengan tas kulit asli dengan harga minimal Rp 100.000. Utilisasi industri kerajinan kulit saat ini memerlukan bahan baku berupa kulit   mentah sebanyak 70.000 ton, tetapi baru tersedia bahan baku sebanyak 31.000 ton. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan bahan baku kulit yang dibutuhkan oleh industri kerajinan kulit kurang mencukupi.           Oleh karena itu, hampir 70 persen kebutuhan pengusaha sepatu, tas, dan barang-barang lain berbahan baku kulit harus dipenuhi dari kulit impor.          Bahan baku tersebut, sebagian pengusaha pengrajin kulit skala kecil dan menengah (UKM) sempat beralih pada industri kulit imitasi disamping juga memenuhi permintaan pasar untuk produk kulit asli. Beralihnya sebagian
pengusaha pengrajin tas kulit menjadi pengusaha pengrajin kulit imitasi dilakukan selain pada awalnya untuk mempertahankan kelangsungan usaha tas kulit juga karena produk tas kulit imitasi kini memiliki pangsa pasar tersendiri yang menjanjikan.    Salah satu daerah sentra kerajinan kulit di Indonesia adalah Propinsi Jawa Timur, tepatnya di Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Dilihat dari        data statistik Provinsi Jawa Timur, produk tas kulit memberikan nilai yang besar terhadap total produk kulit secara keseluruhan menunjukkan besarnya nilai produksi masing-masing produk kulit.
Kategori lain klik disini :

1. pusat tas kulit

2. tas kulit asli

3. tas kulit jogja

4. tas kulit murah

5. tas kulit sapi

6. tas kulit domba

SENI KERAJINAN

Pembahasan seni kerajinan Indonesia dalam perspektif historis bisa menghadapi kendala terminologis, apakah ketika menorehkan tulisan dimulai sejak deklarasi sumpah pemuda tahun 1928, atau sejak dilontarkannya gagasan kawasan Nusantara pada zaman Majapahit, atau dimulai sejak zaman prasejarah seperti yang dilakukan beberapa penulis Barat, di antaranya A.N.J. Th. A Th van der Hoop (1949). Fritz A. Wagner (1949;1959), A.J. Bernert Kempers (1959) dan Claire Holt (1967).
Nuansa Indonesia sentrisme sangat jelas bukan pengingkaran pengakuan internasional atas eksistensi seni rupa Indonesia yang sudah berlangsung sejak zaman prasejarah, namun dalam hal pembabakannya disesuaikan dengan kenyataan periode zamannya. Hal ini dikemukakan agar masalah terminologi kaitannya dengan batasan temporal tidak menjadi bahan perbincangan yang tak berujung, sehingga pembahasan seni kriya Indonesia segera dapatdimulai. (SP. Gustami, 2002).
Seni kriya, bagi banyak kalangan bukan lagi berkutat hanya pada masalah peristilahan, dalam suatu seminar internasional Seni Kriya September 2002, PPs ISI Yogyakarta audiens menghendaki formula praktis bagaimana memajukan kriya, meningkatkan kualitas produksi, bagaiman menembus pasar eksport. Secara umum dapat dikatakan bahwa disiplin kriya kriya adalah disiplin yang banyak membutuhkan konsentrasi pada pengembangan sarana dan pengetahuan praktis. Bahkan kriya kontemporer/ contemporary craft: masih cukup memiliki rambu-rambu penilaian kualitas antara lain kualitas dalam menangani material craftmanship atau skill. Skill adalah semacam pengetahuan yang digolongkan sebagai tacid knowledge (pengetahuan diam-diam), dipelajari melalui pengalaman.(Asmudjo J. Irianto, 2002).
Seni kriya hidup, tumbuh dan berkembang di kawasan Indonesia bagaikan pernik-pernik manikam persada Nusantara. Kehadirannya beriringan sejalan dengan eksistensi manusia di tanah air. Penciptaannya berkaitan erat dengan kebutuhan hidup, baik kebutuhan jasmani (fisik) maupun kebutuhan rohani/jiwani (spiritual).Oleh karena itu, hasil karya sen kriya sering

merepresentasikan pola fikir dan perilaku masyarakat pada zamannya. ( Franz Boas, 1955 ). Keberadaan seni kriya selalu berkaitan dengan pemenuhan fungsi-fungsi tertentu,meskipun pemenuhan fungsi-fungsi itu sering dipandang hanya dari sisi fisiknya saja,tidak menyeluruh, tidak sesuai dengan realitas kebutuhan hidup yang lengkap dan utuh.Ada tiga kategori fungsi seni, yaitu fungsi personal, fungsi sosial dan fungsi fisik. Fungsi personal adalah bekaitan dengan pemenuhan kepuasan jiwa pribadi dan individu; fungsi sosial berhubungan dengan tujuan-tujuan sosial,ekonomi, politik, budaya dan kepercayaan; sedangkan fungsi fisik berurusan dengan pemenuhan kebutuhan praktis. Dalam perwujudannya, ketiga fungsi tersebut saling bersinergi, sebagai satu kesatuan yang utuh dan padu.
Dalam dunia modern pengetahuan mempelajari dan menguasai ketrampilan disokong oleh pengetahuan bahan dan material yang bisa saja diajarkan secara teoritis. Jika pengetahuan itu ditambahkan dengan pengetahuan sejarah, teori seni rupa dan sedikit ilmu manajemen dapat masuk ke kurikulum sekolah.
Seni Kriya adalah semua hasil karya manusia yang memerlukan keahlian khusus yang berkaitan dengan tangan, sehingga seni kriya sering juga disebut kerajinan tangan. Seni kriya dihasilkan melalui keahlian manusia dalam mengolah bahan mentah. Seni kriya dapat dikelompokan berdasar tujuan penciptaan atau penggunaannya menjadi kriya mempunyai fungsi : praktis, estetis, dan simbolis (religius). Kata „kriya‟ pada zaman dahulu kemungkinan diadop dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Jawa yang berarti kerja. Kemudian muncul kata „seni‟ yang disepadankan dengan kata „art‟ bahasa Inggris yang berarti hasil karya manusia yang mengandung keindahan. Pada saat ini seni kriya golongkan sebagai bagian dari seni rupa, yaitu karya seni yang dinikmati dengan indera penglihatan.
Namun seni kriya membutuhkan kemampuan kecakapan teknik dan ketelatenan yang tinggi, sperti seni kriya tenun, batik, anyam, gerabah, perhiasan hingga keris.( A.Agung Suryahadi, 2007 ).Seni kriya sudah sangat tua umurnya dan merupakan cikal bakal seni rupa Indonesia pada umumnya. Yang kemudian membedakan seni kriya dari seni murni atau seni rupa lainnya adalah fungsinya. Sementara seni murni adalah ekspresif dan komunikatif, seni kriya lebih berorientasi pada kegunaan dalam kehidupan manus

Kategori lain :

1. pusat tas kulit

2. tas kulit asli

3. tas kulit jogja

4. tas kulit murah

5. tas kulit sapi

6. tas kulit domba

7. tas kulit buaya

8. tas kulit ular